|
Tatkala
Letih Menunggu
[dengar]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Menunggu
ada kalanya terasa mengasyikkan / Banyak waktu kita
miliki untuk berfikir / Sendiri sering kali sangat kita
perlukan / Meneropong masa silam yang telah terlewat
/ Mungkin ada apa yang kita cari / Masih tersembunyi
di lipatan waktu yang tertinggal / Mungkin ada apa yang
kita kejar / Justru tak terjamah saat kita melintas
/ Menunggu lebih terasa beban yang membosankan / Banyak
waktu kita terbuang tergilas cuaca / Sendiri seringkali
sangat menyakitkan / Meneropong masa depan dari sisi
yang gelap / Mungkin ada apa yang kita takuti / Justru
telah menghadang di lembaran hari-hari nanti / Mungkin
ada apa yang kita benci / Justru telah menerkam menembusi
seluruh jiwa kita / Memang seharusnya / Kita tak membuang
semangat masa silam / Bermain dalam dada / Setelah usai
mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini.
Kau
Rengkuh Mentari Kau Dekap Rembulan
[dengar]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Rambutmu
tergerai ditiup angin / Seperti gelombang di samudera
/ Kau berdiri di padang sahara / Tubuhmu kotor mandi
keringat / Matamu tajam seperti elang / Kau menangkap
kilau ke dalaman / Kau rengkuh mentari / Kau sirami
tubuhmu dengan kemilau cahaya / Terpancar ke seluruh
penjuru jagat raya / Kau dekap rembulan / Kau lumuri
wajahmu dengan sinar keteduhan / Menyelimuti bumi beserta
isinya / Kami menangis merinduimu / Kami merintih mencintaimu
/ Dalam doa ku selalu memuja / Keselamatanmu dan sahabat
/ Serta seluru umat di dunia.
Rindu
KehadiranMu
[dengar]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Betapapun jauhnya aku
mengembara / Tak dapat ku lepaskan / SuaraMu berbisik
lewat ke dalaman jiwa / Ketika ombak di lautan melambung
memecah keheningan / Aku rindu kehadiranMu meski hanya
lewat mimpi / Ku kirimkan untaian kata indah dalam nyanyian
/ Lewat matahari, rembulan dan taburan bintang / Kau
berikan cintaMu maha luas bak bentangan samudera / Ku
arungi dengan sujud dan ketulusan / Betapapun rindunya
aku ingin bertemu denganMu / Terasa panjang hari-hari
yang harus ku lewati / Berapa banyak kanvas ku gores
lukisan wajahMu / Namun tak pernah dapat ku reka keteduhanMu.
Sketsa
Wajah Buram
[dengar]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Sketsa wajah goresan
pensil / Menyeretku ke gerbang mimpi / Melayang jauh
ke masa silam / Ketika tubuhmu luruh, jiwapun terbang
/ Seiring kepak burung elang / Wangi cintamu membiusku
/ Aku menggigil kerna terbakar / Deburan ombak memisahkan
kita / Kerap ku panggili namamu / Lewat helaan nafas
dalam / Angin tolong bawa aku terbang / Jauh melewati
batas angan / Agar aku dapat terus bermimpi / Sketsa
wajah yang mulai buram / Digilas cuaca dan usia / Waktu
tertatih namun terus berputar / Namamu lekat tak pernah
hilang / Kerap ku panggili namamu / Lewat helaan nafas
dalam / Angin tolong bawa aku terbang / Jauh melewati
batas angan / Agar aku dapat terus bermimpi / Untuk
membuktikan bahwa cintaku / Kekal abadi.
Titip
Rindu Buat Ayah [dengar]
/ [dengar
versi 1980 / 1995]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Di matamu masih tersimpan
/ Selaksa peristiwa / Benturan dan hempasan / Terpahat
di keningmu / Kau nampak tua dan lelah / Keringat mengucur
deras / Namun kau tetap tabah / Meski nafasmu kadang
tersengal / Memikul beban yang makin sarat / Kau tetap
bertahan / Engkau telah mengerti hitam / Dan merah jalan
ini / Keriput tulang pipimu / Gambaran perjuangan /
Bahumu yang dulu kekar / Legam terbakar matahari / Kini
kurus dan terbungkuk / Namun semagat tak pernah pudar
/ Meski langkahmu kadang gemetar / Kau tetap setia /
Ayah / Dalam hening sepi ku rindu / Untuk menuai padi
milik kita / Tapi / Kerinduan tinggal hanya kerinduan
/ Anakmu sekarang / Banyak menanggung beban.
Ingin
Kupetik Bintang Kejora [dengar]
/ [dengar
versi 1995]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Mengapa kau tak melihat
/ Apa yang aku pikirkan / Semuanya terbuka / Terbaca
di mataku / Mengapa kau tak peduli / Isyarat yang ku
kirimkan / Lewat sejuta puisi / Lewat selaksa bunga
/ Engkau tetap diam membeku / Kau tepiskan mimpi-mimpiku
/ Ku hunus pedang cinta / Ku pekikkan asmara / Semula
kau tetap diam / Kemudian kau tersenyum / Ingin ku petik
bintang kejora / Untukku sematkan / Di dadamu / Di jantungmu
/ Mengapa hanya namamu / Terpatri dalam jiwaku / Haruskah
aku menyerah / Sebelum aku coba.
Bias
Warna
[dengar]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Warna dalam gugusan alis
mata / Sering terbaca menyesatkan / Sementara di dalam
bergejolak / Di luarnya justru seperti bisu / Biru membersitkan
kasih yang tulus / Kadang ditafsirkan keliru / Pergumulan
yang sengit dengan hidup / Memaksa kita sering pura-pura
/ Sapuan kuas nyanyian puisi / Harus lahir dari renungan
/ Mengendap di jiwa dan tuangkan sejujurnya / Rindu,
dendam, kata hati / Mesti diterjemahkan dalam bahasa
yang jernih / Hitam menenggelamkan sisi gelap / Mata
sering terpaksa berlagak buta / Sapuan kuas nyanyian
puisi / Harus lahir dari renungan / Mengendap di jiwa
dan tuangkan sejujurnya / Rindu, dendam, kata hati /
Mesti diterjemahkan dalam bahasa yang jernih / Marah,
luka, duka jiwa / Mesti ditumpahkan dengan suara lantang.
Bahasa
Matahari [dengar]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Seringkali aku tak mampu
menangkap / Isyaratmu lewat cuaca / Matahari, ombak
di laut / Sering membisikkan yang bakal terjadi / Kadangkala
aku memilih berdusta / Menghianati suara hati / Sesungguhnya
kejujuran / Dapat menangkal semua malapetaka / Mari
kita mencoba / Bersahabat dengan alam / Bumi, langit
dan matahari / Bahasa mereka kita pelajari / Tentunya
dengan kalimat jiwa yang rahasia / Tuhan menghendaki
kita pelihara / Bumi beserta seluruh isinya / Untuk
itu kita harus memahami / Bahasa matahari / Sesungguhnya
aku tak mampu menjawab / Ketika anakku bertanya / Ke
manakah angin berhembus? / Seberapa banyakkah tempat
berteduh? / Mari kita mencoba / Bersahabat dengan alam
/ Bumi, langit dan matahari / Bahasa mereka kita pelajari
/ Tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia / Tuhan
menghendaki kita pelihara / Bumi beserta seluruh isinya
/ Untuk itu kita harus belajar / Bahasanya semak belukar
/ Untuk itu kita harus memahami / Bahasa matahari.
Nyanyian
Getir Tanah Air [dengar]
Lagu
dan Lirik oleh Ebiet G. Ade
©2001 P. T. BMG Music Indonesia.
Seringkali aku terjaga
/ Terusik dari tidurku / Sepertinya ku dengar suara
/ Jeritan yang menyayat / Mungkin hanya mimpi yang tak
punya makna / Atau ini isyarat agar aku mulai bicara
/ Seringkali aku mencoba membenamkan kepalaku / Bersembunyi
dari hiruk pikuk suara yang memilukan / Mungkin aku
memang bodoh atau tak perduli / Percaya kegetiran tak
selalu berbuah duka / Ku saksikan tangan kotor mulai
mencengkeram / Tak ada siapapun yang dapat mencegah
/ Orang-orang pandai hanya diam menonton / Atau bahkan
hanya saling menuding / Mulai kehilangan hasrat kemaknusiaan
/ Mulai kehilangan akal kebersamaan / Mulai kehilangan
rasa saling memiliki / Para pemimpin pun tak ada yang
perduli.
|